Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-settings.php on line 267

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-settings.php on line 269

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-settings.php on line 270

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-settings.php on line 287

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-includes/cache.php on line 36

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-includes/theme.php on line 540
water and sanitation » Teknologi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan
February
29th 2008
Teknologi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan

Posted under Home

DESA BLEBERAN, KABUPATEN MOJOKERTO

Sumber Mata Air BLEBERAN
sumber mata air di desa bleberan Sumber mata air dari proyek ini diambil dari mata air yang berada di Dusun Cakar ayam. Sumber air tersebut berupa mata air yang cukup potensial, karena kualitas airnya cukup bersih dan debit airnya besar, yaitu 40 liter/detik, hanya saja distribusinya ke warga yang belum sempurna. Sumber mata air ini ditutup dengan beton agar terjaga kebersihannya.

Sumber dan teknologi air bersih di Desa Bleberan

  • Sumber air bersih yang digunakan selain dari mata air (HIPAM), juga dari sumur. Penggunaan air dari sumur adalah untuk masak, mandi, dan cuci. Penggunaan air dari sungai adalah untuk MCK (mandi, cuci, kakus). Sistem perpipaan adalah Death End System.

  • 15 % warga Dusun Losari memakai air dari HIPAM dan sisanya memakai air sumur. Teknologi yang digunakan untuk sumur adalah dengan memakai kerekan lalu membawanya dengan memikul memakai drum, ada juga yang memakai pompa untuk warga yang mampu. Dari 85 % warga yang mengambil air dari sumur tidak semuanya mempunyai sumur. Satu sumur bisa digunakan oleh 5-10 KK.

  • Dusun Bangon 40 % warganya memakai air dari HIPAM, sedangkan sisanya menggunakan air sumur dimana pengambilan airnya sebagian besar menggunakan kerekan/tali dan timba. Pemakaian pompa air oleh 5-10 KK.

  • Warga Dusun Cakar ayam sebanyak 90 % menggunakan air HIPAM sedangkan sisanya menggunakan air sumur. Ketika belum ada HIPAM warga dusun ini banyak memakai sumur, sekarang sumur tersebut banyak yang diurug karena sering kering dan sudah ada pelayanan air bersih perpipaan. Untuk sumur cara pengambilan airnya sama dengan dusun yang lain.

  • Untuk dusun-dusun yang tidak mendapatkan air HIPAM yaitu Legundi, Kanigoro, Bleber, Sempu, dan Tegalsari air bersihnya juga dari sumur gali yang memakai timba biasa ataupun memakai pompa listrik. Bahkan sebagian besar warga dari dusun-dusun ini menggunakan air sungai untuk MCK. Sedangkan untuk keperluan memasak, warga mengambil air dari sumur gali yang digunakan bersama untuk rata-rata 5 KK. Warga baru bisa memiliki sumur kalau ada dana untuk membangun sumur. Pada musim kemarau, sumur tersebut sampai kedalaman 15 - 20 meter baru keluar harinilla.

Sanitasi dan Sampah di Desa Bleberan

  • Kondisi sanitasi di Desa Bleberan adalah sebagai berikut :
  1. sebagian besar warganya (faktor 90 %) BAB di sungai. Bahkan di Dusun Tegalsari tidak ada yang memiliki WC. Dusun yang warganya paling banyak memiliki WC adalah Dusun Cakar ayam (sekitar 50 %).
  2. grey water sebagian besar dibuang ke pekarangan dan parit yang kemudian ke resapan sederhana dimana hanya berupa jurang kecil di tanah atau ke sungai. Beberapa warga saluran pembuangan grey waternya menuju ke sawah, hal ini tidak mempengaruhi tanaman di sawah. Adanya pemisahan antara black water dan grey water.
  • Meskipun banyak yang BAB ke sungai angka diare di Desa Bleberan tidak begitu tinggi, berkisar antara 8-15 kasus setiap bulannya, itupun terjadi pada musim penghujan saja. Kejadian diare banyak dialami oleh balita dan penyakit gatal-gatal.

  • Desa Bleberan tidak memiliki WC umum. Pada umumnya warga ingin memiliki WC, namun terhambat oleh faktor biaya, meskipun ada juga warga yang sudah mempunyai WC tetapi tetap lebih suka BAB di sungai karena dianggap murah, meriah, praktis dan efisien. WC yang digunakan sudah menggunakan septic tank, ada beberapa yang berupa pit latrine / cubluk saja tanpa resapan. Bahkan ada WC yang pembuangannya langsung ke sungai.

  • Kurangnya pengetahuan akan kesehatan karena ada yang berpendapat bahwa jarak antara sumur dengan septic tank sejauh 5 meter.

  • Sampah biasanya dikumpulkan lalu dibakar di pekarangan.

Comments are closed.