Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-settings.php on line 267

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-settings.php on line 269

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-settings.php on line 270

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-settings.php on line 287

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-includes/cache.php on line 36

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/users/dimsum/www/id/wp-includes/theme.php on line 540
water and sanitation » Pamekasan Menuju Sanitasi Sehat
March
3rd 2008
Pamekasan Menuju Sanitasi Sehat

Posted under berita

gambar sarana sanitasi pedesaan

Bagaimana rasanya tinggal di daerah yang kondisi lingkungan masih dikatakan belum sehat??fasilitas air bersih dan sanitasi yang memprihatinkan, sampai kapan ini selesai???tim DIMSUM ITS mengunjungi Lokasi Desa Bukek berada di sekitar 2 Km dari tempat Telecenter Pamekasan (Jl. Raya Tlanakan Km. 7 Desa Branta Pesisir Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan). Sedangkan Desa Terak berada di sekitar 5 km dari tempat Telecenter Pamekasan. Secara umum, kondisi masyrakat Desa Bukek dan desa Terak tidak banyak perbedaan. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah bertani dan memiliki kehidupan yang sederhana. Begitu juga dengan sarana air bersih dan sanitasinya.

Terdapat tiga sumber air bersih yang digunakan warga Desa Bukek dan Desa Terak yakni air sumur milik warga setempat, air sumur bor dari WSLIC dan air PDAM.

sumber air bukek

  1. Air dari warga setempat yang dimaksud yaitu menggunakan sumur dari warga setempat untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduk sekitar yang lokasinya jauh dari sumur bor WSLIC dan tidak terlayani oleh PDAM. Air ini memiliki kualitas yang bagus. Namun, kuantitas air tidak dapat memenuhi kebutuhan penduduk tiap hari. Akibatnya, air yang dialirkan setiap dua hari sekali.
  2. Air dari sumur bor memiliki kualitas yang baik. Air ini mengalir secara bergiliran ke rumah warga setiap dua hari sekali.]
  3. Sumber PDAM yang dialirkan ke warga desa Bukek adalah sumber IV yang letaknya tidak begitu jauh dari lokasi WSLIC. Berbeda dengan WSLIC, air dari PDAM memiliki kualitas yang kurang baik (bau belerang). Untuk mendapatkan aliran PDAM warga harus membayar tiap bulan. Air PDAM ini dialirkan ke rumah warga dengan pipa-pipa paralon setiap dua hari sekali. Aliran PDAM ini akan mati ketika listrik mati atau ada kebocoran pipa. Namun selama ini warga menganggap tidak pernah kekurangan air bersih karena rata-rata mereka memiliki tandon (jeding, tong plastik,bak dari tanah liat,dll) yang digunakan untuk menampung air ketika aliran air PDAM menyala

Sarana sanitasi (WC) hampir dimiliki oleh masyarakat desa. Sarana sanitasi (WC) yang sebagian besar masyarakat miliki terdapat dua macam yaitu WC jongkok dan Cubluk. Namun, sebagian besar dari masyarakat memiliki cubluk. Dari pengamatan, terdapat masyarakat yang masih melakukan kucingan (menggunakan sistem gali dan tutup tanah)

Pada umumnya lokasi WC yang dimiliki masyarakat terletak di halaman rumah sekitar 10 m dari rumah. WC yang menggunakan WC jongkok sangat layak untuk sarana sanitasi. Hal tersebut karena kondisi WC yang sudah tertutup (memiliki dinding dan atap). Selain itu, dengan WC jongkok tidak akan tercium bau karena adanya sistem leher angsa yang mencegah bau dari tangki septik. Berbeda dengan kondisi WC dengan sistem cubluk. WC dengan sistem cubluk memiliki kondisi yang kurang layak. Dinding WC terbuat dari anyaman bambu (sesek) dan tidak mempunyai atap. Kondisi ini menyebabkan timbul bau ketika digunakan. Selain itu, kondisi keamanan juga menjadi masalah karena pijakan yang digunakan terbuat dari bambu yang dapat rapuh atau patah.

TSSM….

pemicuan dg TSSM

Mungkin ini salah satu program pemerintah untuk membantu peningkatan penyediaan air bersih dan kebutuhan sanitasi. Program ini lain dari yang lain karena program ini tidak memberikan bantuan dana melainkan merubah pola pikir masyarakat untuk berubah menjadi lebih maju tentang sanitasi. Dengan bantuan tim TELECENTER Pamekasan diharapkan informasi akan sanitasi lebih cepat masuk ke pedesaan. Kegiatan-kegiatan TSSM lebih menyatu ke masyarakat pedesaan dengan cara game-game yang lebih mudah dicerna masyarakat desa. selain itu, nuansa game disisipi teori-teori akan sanitasi.

Sosialisasi TSSM dilakukan oleh petugas dari Dinas Kesehatan Pamekasan. Sosialisasi dilakukan di rumah Kepala Desa Bukek dan Kepala Desa Terak. Peserta yang hadir adalah masyarakat sekitar yang mewakili dusun-dusun di desa tersebut. Tahapan yang dilakukan pada saat sosialisasi antara lain:

  1. Penjelasan mengenai TSSM, Pada tahapan ini, petugas pengarah menjelaskan mengenai program TSSM. TSSM merupakan program di bawah Dinas Kesehatan yang merupakan program penyadaran masyarakat tentang pentingnya sanitasi. Program TSSM bukan merupakan program yang memberikan bantuan dana untuk pengadaan sarana sanitasi.
  2. Game, Pada tahapan ini, pencairan suasana dan penekanan tentang pentingnya sanitasi dilakukan oleh petugas. Permainan yang dilakukan terdiri dari beberapa macam, antara lain:
    • Merangkai kata, Pada permainan ini, peserta dibagi menjadi 5 kelompok yang masing-masing diberikan sebuah kata “A - Ba - U - Ta - I” untuk diucapkan ketika petugas pengarah menunjuk kelompok tersebut. Permainan ini berfungsi untuk menyadarkan peserta bagaimana pentingnya sanitasi.
    • Pemetaan sanitasi, Pada permainan ini, peserta dituntut untuk membuat peta lokasi desa. Selanjutnya peserta yang tidak memiliki WC diberi benda (daun) dan disuruh meletakkan dimana posisi mereka melakukan BAB. Permainan ini berfungsi untuk memetakan peserta yang punya WC dan yang tidak punya. Selain itu, permainan ini juga dapat mengetahui perilaku BAB masyarakat yang tidak mempunyai WC.
    • Simulasi pencemaran air, Pada permainan ini, petugas pengarah mencontohkan segelas air yang diberi dedak (pakan ternak) dan dicampur. Kemudian petugas menawarkan peserta untuk meminum air tersebut. Permainan ini berfungsi untuk menyadarkan masyarakat mengenai pencemaran air akibat BAB tidak pada sarana yang tersedia.
  3. Penyadaran peserta, Pada tahapan ini, dilakukan evaluasi terhadap game yang telah dilakukan. Jika pada tahap ini peserta sudah sadar akan pentingnya sanitasi dan mau merubah perilaku BABnya maka tahapan transect tidak dilakukan dan langsung ke penjaringan komitmen peserta. Jika masih terdapat peserta yang belum sadar maka dilakukan tahap transect.
  4. Jalan-jalan ke lokasi BAB (Transect), Pada tahapan ini dilakukan kunjungan ke lokasi BAB (Lokasi BAB bagi peserta yang tidak mempunyai WC). Pada kunjungan lapangan ini dilakukan pembahasan secara langsung permasalahan yang terjadi bila BAB sembarangan. Dengan adanya pembahasan tersebut diharapkan peserta yang tidak memiliki WC akan tersadar bahwa adanya WC memang sangat diperlukan.
  5. Penjaringan komitmen peserta, Pada tahapan ini, dilakukan pengambilan komitmen dari peserta mengenai berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengubah perilaku BAB tersebut. Lama waktu ditentukan sendiri oleh peserta sesuai dengan kesanggupannya. Dari waktu yang ditentukan tersebut, petugas nantinya akan melakukan evaluasi perubahan yang terjadi setelah waktu yang ditentukan.

survey awalSosialisasi TSSM yang dilakukan pada dasarnya bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat dalam BAB agar menjadi lebih baik. Sisi lain dari tujuan sosialisasi tersebut adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sanitasi. Dari tujuan tersebut, petugas pengarah berharap nantinya tidak akan ada masyarakat yang BAB dengan cara kucingan (pindah-pindah tempat). Syarat minimal WC yang diberikan oleh petugas adalah WC dengan sistem cubluk.

Pola Pikir Masyarakat Mengenai WC

Berdasarkan survey yang telah dilakukan, lebih dari 50% masyarakat menggunakan WC dengan sistem cubluk. Namun, pola pikir mereka mengenai WC yang layak adalah WC dengan sistem WC leher angsa (WC jongkok). Pola pikir tersebut muncul karena banyak masyarakat yang mengeluh mengenai kondisi WCnya. Beberapa keluhan yang disampaikan antara lain bau, keamanan, lokasi WC yang jauh dari rumah, dan konstruksi WC. Masyarakat sebenarnya ingin mengubah WC cubluk menjadi WC leher angsa, namun permasalahan ekonomi menjadi faktor utama tidak dilaksanakannya keinginan tersebut.

Pengubahan WC cubluk menjadi WC leher angsa memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dengan penghasilan masyarakat rata-rata 10.000/hari dinilai sangat sulit untuk melakukan perubahan tersebut. Akibatnya masyarakat merasa cukup dengan menggunakan WC cubluk.

Comments are closed.